Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Wednesday, January 13, 2016

Preparing Myself for Better Things in 2016 (part 1)


Seperti biasanya di awal tahun aku selalu membuat resolusi untuk diriku, dan aku selalu berharap dapat rutin menulis di blog ini minimal 1x dalam seminggu:) 

Banyak sekali hal yang aku pelajari di awal tahun 2016 ini. Kejadian-kejadian yang aku alami di awal tahun ini bukanlah tergolong hal yang menyenangkan, namun di sisi yang lain, kejadian ini memberiku banyak insight dan menjadikan diriku pribadi yang lebih kuat dan mandiri.

Dimulai dengan keputusanku untuk meninggalkan bisnis yang telah kurintis selama 3 tahun. Tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Sama sedihnya ketika aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku di Universitas Ciputra dulunya. Namun ketika kita memiliki impian untuk diwujudkan, maka ada kalanya kita harus meninggalkan/mengorbankan hal-hal yang menjauhkan kita dari impian kita tersebut. Di tahun 2016 ini, aku memutuskan untuk meninggalkan CCSI dan aku hanya berfokus untuk mengurus dan mengembangkan bisnis bimbingan belajar. 

"some people believe that holding on and hanging in there are signs of strength.
However, there are time in life in which it takes much more strength to just let go"

Keputusan untuk meninggalkan bisnis ini tampaknya cukup tepat, karena ada kejadian yang tak pernah aku duga sebelumnya terjadi tepat di tanggal 1 Januari 2016. Aku telah melakukan serah terima pekerjaan di akhir bulan Desember 2015, sehingga hampir keseluruhan pekerjaan telah beres di akhir tahun yang lalu. 

Lalu apa yang sebenarnya terjadi di tanggal 1 Januari 2016?
Tepat di tanggal tersebut, di awal tahun 2016, papa mengalami kecelakaan motor dan terluka cukup parah di bagian kepalanya. Harus diakui kejadian tersebut bukanlah kejadian yang mudah untuk diterima oleh keluarga. Namun anehnya, di balik kejadian yang menyedihkan tersebut, ada beberapa hal yang membuat kami tetap kuat dan mensyukuri segala sesuatu yang telah terjadi tersebut. 

Detail dari kisah mengenai papa, akan saya tuliskan di artikel yang berikutnya (part 2).


Thursday, December 17, 2015

Mengenal Higly Sensitive Person (HSP) (part1)

Judul artikel yang tidak pernah terbayang sama sekali bagi saya untuk menuliskannya. Saya baru saja mengetahui istilah tersebut hari ini ketika saya mencoba mencari tahu adakah hal yang salah dengan terlalu mudah menangis dan menjadi perasa, serta bagaimana cara memperbaikinya. Ketika saya melakukan googling, saya tertarik dengan istilah Highly Sensitive Person (HSP) dan mulai mempelajari beberapa hal menarik mengenai HSP. Tidak terlalu banyak artikel dalam bahasa indonesia yang menuliskan mengenai HSP. Semoga apa yang saya tulis ini bisa membantu teman-teman yang mungkin saat ini juga sedang bertanya-tanya adakah hal yang salah dengan menjadi perasa :)

Artikel ini bukan bertujuan untuk mencari pembenaran diri dari menjadi orang yang perasa, dan mudah tersinggung. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tentu setiap orang perlu berproses untuk terus berusaha mengevaluasi diri dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 


"Our sensitivity is a part of who we are as people. It is what makes us loving and affectionate. It is why we care so much about others and often do what we can to make people happy. Without this quality, we would be completely different people. Being a Highly Sensitive Person definitely has its struggles, but it can also be a wonderful gift and honestly we wouldn’t have it any other way"
"Perasaan sensitif adalah bagian yang kita miliki sebagai manusia. Itu adalah hal yang membuat kita mencintai dan menyayangi. Hal inilah yang membuat kita sangat peduli terhadap orang lain dan seringkali hal tersebut membuat kita mencoba melakukan sesuatu agar orang lain bahagia. Tanpa kepekaan dan sensitivitas tersebut, kita akan menjadi orang yang berbeda. Menjadi seorang HSP tentunya memiliki pergumulan dan perjuangannya sendiri, namun hal tersebut  dapat kita anggap sebagai sebuah hadiah  dan kesempatan yang luar biasa yang dapat kita miliki" 


Perlu menjadi catatan dan perhatian kita bahwa menjadi HSP bukanlah kelainan dan abnormal. Tidak ada hal yang salah dengan menjadi peka dan sensitif, kita hanya perlu mengenali hal yang menjadi kekurangan dan kelebihannya serta bagaimana mengelolanya. 

Ciri-Ciri dari Highly Sensistive Person (HSP)
Berikut adalah beberapa ciri dari HSP yang dari beberapa artikel yang saya baca:
  1. Orang lain cenderung mengatakan kepada Anda, bahwa Anda terlalu sensitif, terlalu emosional, terlalu sering mengandalkan perasaan, dan menganggap/memikirkan hal-hal terlalu personal (take things too personally)
  2. Mudah sekali menangis
  3. Anda merasakan perasaan orang lain bahkan sebelum orang tersebut menceritakan perasaan yang mereka rasakan :)
  4. Hal-hal negatif mempengaruhi Anda (Negativity overwhelms you). Ketika orang lain dapat mentolerir nada/intonasi yang tinggi atau kemarahan, hal tersebut membuat Anda 'sakit' atau merasa tidak nyaman. Anda menginginkan kedamaian dan ketenangan 
  5. Anda merasa tidak nyaman ketika hal-hal terjadi di luar kendali Anda
  6. Suasana hati Anda dapat berubah sewaktu-waktu. Hal ini dapat dipengaruhi oleh suasana hati, emosi dan persoalan yang dialami orang lain
  7. Anda sangat intuitif dan bisa merasakan jika seseorang berbohong atau jika ada sesuatu hal yang salah
  8. Anda berusaha untuk selalu menyenangkan orang lain ("people pleaser") dan hal ini menjadi salah satu penyebab Anda sulit berkata "tidak" kepada orang lain
  9. Anda cukup perfeksionis dan merupakan orang yang memperhatikan hal-hal detail
Apa yang saya tuliskan di sini, belum mencakup semua dari ciri-ciri HSP, mungkin saya akan menuliskannya di artikel saya yang selanjutnya (sehingga ada alasan bagi saya untuk tetap terus menulis :D)

Mungkin sebagai seorang HSP seringkali kita merasa ada hal yang salah dengan diri kita menjadi terlalu sensitif dan mudah sekali menangis. Namun saya menemukan artikel di mana membuat kita harus mensyukuri bahwa kita termasuk di dalam golongan HSP. 
  1. Anda memiliki sifat empati yang alami
  2. Anda adalah orang yang tanggap
  3. Anda adalah orang yang berorientasi pada hal-hal detail
  4. HSP memiliki sikap dan sopan-santun di atas rata-rata
  5. Dan hal yang terpenting adalah "HSP are neurologically wired to be emotional and empathetic". You can't fight nature. It's so much better to embrace every aspect of your personality 
Jadi, apabila kita termasuk di dalam golongan HSP, maka jangan berkecil hati atau merasa putus asa dengan keberadaan diri kita. Mari kita terus memperbaiki diri dan memaksimalkan hal-hal yang menjadi kekuatan kita. 



Sunday, April 5, 2015

Belajar Setiap Kali Ada Kesempatan

Siang itu saya pergi ke sebuah kedai makan tidak jauh dari kantor. Ketika saya sedang menyantap makan siang saya, saya mengamati bahwa ada seorang bapak yang sedang memanggil satu persatu karyawan di kedai makan tersebut. Kemungkinan Bapak tersebut adalah Bapak pemilik kedai. Saya pun bertanya kepada pelayan di sana, dan benar bahwa beliau adalah pemilik tempat tersebut. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya apakah beliau ada waktu dan kita bisa berbicara. Beliau pun setuju untuk meluangkan waktu berbicara setelah menyelesaikan urusan pekerjaan beliau.

Saya hanya melontarkan pertanyaan sederhana, "Bagaimana ceritanya Bapak kog bisa memulai bisnis ini?" Bermula dari pertanyaan sederhana tersebut, Bapak tersebut menceritakan pengalamannya selama kurang lebih 1 jam:) Banyak inspirasi yang saya dapatkan dari cerita pengalaman beliau. Berikut adalah beberapa point penting yang saya dapatkan:

Sebelum memulai bisnisnya sendiri, beliau telah bekerja sebagai karyawan kurang lebih 20 tahun. Namun ketika bekerja pun, beliau tidak hanya asal bekerja. Salah satu prinsipnya adalah dalam jangka waktu maksimum 2 tahun beliau harus memberikan kontribusi dan hal tersebut dapat terukur dari  peningkatan jabatan/golongan. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satu kunci sukses mencapainya adalah dengan "menjual diri". Apa yang beliau lakukan untuk "menjual diri"?
Beliau mengamati di zaman itu, apabila seseorang ingin mengajukan kredit, orang tersebut harus mengisi kurang lebih 20 lembar form, dimana form tersebut nantinya harus dimasukkan lagi di database, sehingga merupakan pemborosan kertas, waktu dan tenaga. Beliau pun mencoba meringkas keseluruhan form tersebut menjadi tinggal 1 lembar saja. Pihak manajemen pun menghargai ide beliau dan sejak saat itu, ketika melakukan survey, staff di bank tersebut hanya perlu membawa 1 lembar form tersebut.

Hal lain yang beliau lakukan untuk "menjual diri" adalah dengan memberikan prospek (ini istilah saya sendiri, saya agak lupa apa istilahnya di dunia perbankan) setiap hari untuk disetujui oleh atasannya. Sementara rekan-rekannya baru mengajukan setiap 2-3 hari sekali. Tentu saja nama beliau menjadi diperhatikan oleh atasan, karena namanya muncul terus di kertas pengajuan tersebut, sedangkan nama rekan-rekannya tidak setiap hari muncul.

Definisi kesuksesan menurut beliau adalah ketika seseorang berani keluar dari zona nyamannya. Ketika berada di puncak karirnya, beliau memutuskan untuk keluar dan merintis usahanya. Beliau menjelaskan apabila bekerja sebagai karyawan, ibarat sedang merawat pohon milik orang lain, buah yang dihasilkan adalah milik orang lain. Namun apabila memiliki usaha sendiri, ibarat kita sedang merawat pohon kita sendiri, buah yang dihasilkan pun milik kita sendiri.
Ketika sedang melakukan inspeksi, beliau meminta karyawannya untuk duduk di kursi customer dan mengamati sekeliling, apa yang masih kurang baik dan perlu ditingkatkan karena hal tersebut mungkin tidak terlihat apabila dilihat dari tempat karyawan tersebut bekerja.

Tidak hanya cerita seputar pekerjaan dan bisnis yang saya dapatkan, namun juga pembelajaran seputar kerohanian. Ketika saya bertanya beliau ke gereja mana, beliau menjawab "gereja di Surabaya" dan menanyakan kepada saya pernahkah saya mendengar nama gereja tersebut.
Beliau pun menjelaskan, bahwa di ketika Paulus menuliskan surat untuk jemaat di Filipi, Korintus, Kolose, Paulus selalu menyebutkan nama kotanya, dan bahasa inggris untuk kata jemaat adalah church. Jadi itulah alasan beliau menyebutkan bahwa nama gerejanya adalah gereja di Surabaya.

Beliau juga sempat mengajarkan kisah Kain dan Habel. Umumnya kita diajari bahwa persembahan Kain ditolak karena Kain tidak sungguh-sungguh mempersembahkan yang terbaik. Namun yang menjadi alasan persembahan Kain tidak berkenan adalah karena korban persembahannya tidak mengandung unsur darah. Sama ketika tulah kematian anak sulung di Mesir, hanya rumah-rumah yang diolesi darah domba yang akan dilewati oleh malaikat maut.

Akhirnya perbincangan kami pun harus berakhir, karena beliau harus mengantarkan keponakannya ke ariport dan saya pun harus kembali ke kantor. Di hari itu, saya sangat bersyukur untuk inspirasi dan pembelajaran rohani yang saya boleh saya dapatkan. Kita dapat belajar kapan pun dan dari siapapun:)




Friday, March 20, 2015

Ujian yang Membawa Berkat

Beberapa tahun terakhir ini saya benar-benar merasa sedang menempuh 'ujian' di universitas kehidupan. Di sekolah, ujian adalah alat yang dipakai untuk menguji apakah seseorang sudah menguasai pelajaran yang telah dibagikan. Demikian juga di universitas kehidupan ini, ujian adalah alat untuk menguji apakah kita telah benar-benar menguasai sifat/keahlian tertentu yang ingin kita kembangkan/kuasai di dalam hidup ini.

Saya ingat betul permintaan saya di ulang tahun saya tahun yang lalu. Saya berharap menjadi pribadi yang lebih baik, sabar dan bijaksana. Sadarkah kita ketika kita ingin menjadi pribadi yang lebih sabar, maka ujiannya adalah kita harus menghadapi hal-hal yang menyebalkan dan kita harus belajar untuk tetap tenang, sabar dan bijaksana dalam menyelesaikan hal tersebut. Ketika saya ingin menjadi pribadi yang lebih sabar, maka konsekuensi yang saya harus terima adalah saya tidak boleh protes apabila dalam keseharian ada begitu banyak hal yang terasa begitu menyebalkan dan menguras emosi saya. Lah katanya ingin belajar sabar, kalau keadaannya aman, tentram dan damai, kesabarannya terbukti dari mana?
Saya akan dinyatakan lulus ujian kesabaran ketika situasi dan kondisinya begitu tidak mengenakkan dan menguras emosi namun saya tetap mampu tenang dan tidak terpancing emosi untuk menghadapi situasi tersebut.

Contoh real dari ujian kesabaran yang saya hadapi adalah menghadapi murid-murid yang (dalam versi saya) seenaknya sendiri, tidak ada motivasi untuk belajar (maunya main game terus), tidak mau nurut, dll. Kalau mau cuek dan diambil mudahnya, murid mau belajar atau tidak, mengerti atau tidak sih seharusnya saya tidak perlu ambil pusing. Kalau tidak mau belajar, ya tidak usah les, daripada les dengan terpaksa dan saya harus lelah fisik, perasaan dan pikiran untuk 'memaksa' anak ini untuk belajar. Namun dalam hal ini saya justru belajar banyak hal. Akan sangat mudah dan menyenangkan bagi kita para guru apabila mempunyai murid yang baik, penurut, dan rajin belajar. Kalau semuanya begitu indah, dan tidak ada tantangannya, keahlian diri apa yang sedang kita asah? Ketika kita menghadapi murid yang malas belajar, maka kita akan menjadi lebih kreatif, dan berpikir bagaimana supaya anak ini dengan senang hati untuk belajar? Bagaimana membuat pelajaran ini mudah dimengerti? dan yang lebih mendasar, bagaimana membuat anak ini untuk bersikap dengan lebih baik lagi? Tentunya kesabaran dan ketegasan saya menjadi lebih terlatih juga, karena saya tentunya tidak dapat berharap perubahan akan terjadi secara instan.

Demikian halnya dengan kebijaksanaan. Kita tidak dapat mengharapkan kita bisa belajar mengenai kebijaksanaan ketika hidup kita aman, tentram dan damai tanpa ada konflik atau tantangan yang dihadapi. Ada begitu banyak pergumulan yang terasa begitu berat dan menyakitkan, namun setelah itu semua terlewati saya beryukur sekali untuk pembelajaran yang boleh saya dapatkan.

Dalam sharing saya yang sebelumnya saya pernah menceritakan mengenai kebencian dan kepahitan yang saya alami terhadap orang-orang di lingkungan gereja. Saya dulu sempat berpikir bahwa orang-orang yang pelayanan dan orang-orang yang ke gereja tentunya orang-orang yang baik sehingga minim akan kesalahan. Ketika saya melihat dan mengalami sendiri bahwa orang-orang tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang tidak ke gereja, maka saya jadi mempertanyakan kenapa saya harus ke gereja, saya merasa dikecewakan oleh orang-orang tersebut dan saya berpikir tidak lagi ingin ke gereja. Namun melalui pergumulan yang cukup panjang (dan tentunya penuh dengan air mata), saya pun belajar, manusia tidaklah sempurna, manusia telah jatuh di dalam dosa, saya sendiri pun bukanlah manusia yang sempurna. Tuhan tidak bersalah apa pun sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti pelayanan, berhenti ke gereja, yang salah adalah pribadi manusianya. Walaupun mengalami hal-hal yang menurut saya tidak menyenangkan dan menyakitkan, saya sungguh bersyukur untuk pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga yang boleh saya dapatkan.

Masih ada kejadian lain yang saya rasa tidak menyenangkan buat saya, namun memberikan saya pembelajaran yang luar biasa. Mungkin seringkali di gereja kita menyanyikan "Meskipun badai silih berganti dalam hidupku, ku tetap cinta Yesus selamanya". Benarkah ketika badai tersebut terjadi, kita tetap cinta Yesus? Hal kecil yang saya alami mengingatkan saya akan lagu tersebut. Seringkali hal-hal kecil, sakit hati dan gesekan dalam pelayanan yang terjadi membuat saya merasa ingin menyerah dan tidak mau berjuang lagi. Apalagi ketika yang berkepentingan juga tidak peduli dan ambil pusing. Namun seorang sahabat berbagi kepada saya "Saya lho 'disakiti', 'dimarahi' gpp, yang penting tujuannya tercapai dan Tuhan yang dimuliakan". Dia menceritakan bagaimana dia dimarahi, padahal yang seharusnya bertanggung jawab adalah orang lain. Ketika kita disakiti, dikecewakan, akankah hal tersebut akan membuat kita berhenti melayaniNya? Kondisi yang tidak nyaman, tidak mengenakkan adalah hal yang dipakai untuk menguji kita akankah kita tetap 100% memberikan yang terbaik?akankah kita tetap melayaniNya?apakah kita cuma melayani apabila semuanya mendukung? Ketika saya merasa ingin berhenti karena merasa lelah dan sakit hati, di saat itulah saya belajar bagaimana untuk boleh tetap terus melayani dan memberikan yang terbaik. Saya jadi menyadari, karena gesekan dengan saudara seiman yang sepele saja saya hampir berhenti pelayanan, padahal saya sering menyanyikan "Meskipun badai silih berganti dalam hidupku, ku tetap cinta Yesus selamanya", mana buktinya??? Situasi tidak mengenakkan dan tidak nyaman yang kita alami adalah moment yang dapat kita pakai untuk membuktikan kesungguhan kita dalam melayani Dia.

Terlalu banyak hal yang dapat saya ceritakan bagaimana ujian-ujian yang terjadi dalam hidup saya membuat saya memperoleh pembelajaran berharga (berkat), dan tentunya ketika saya berhasil melewati ujian tersebut berarti saya naik ke level yang selanjutnya, dimana sama seperti di sekolah, ketika naik kelas, maka pelajaran dan ujiannya akan disesuaikan dengan level yang selanjutnya.  Saya tidak perlu kuatir apabila saya naik ke level yang selanjutnya, karena saya tahu saya akan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan yang cukup sebelum saat ujian itu tiba. Jadi, jangan takut apabila saat ujian itu tiba, karena kita telah dibekali terlebih dahulu sebelumnya dan hal tersebut PASTI membawa berkat bagi setiap kita.


Thursday, February 19, 2015

Blessing in Disguise

Sudah lama sekali diri ini tidak menulis lagi di blog, padahal di setiap awal tahun yang baru, saya selalu membuat komitmen untuk menulis minimal satu buah artikel setiap minggunya:) Di awal tahun yang baru ini semoga komitmen menulis blog ini dapat terwujud kembali. Untuk kali ini saya akan menulis tentang perjalanan dan pembelajaran saya alami sampai akhirnya saya menjadi seorang entrepreneur.

Istilah entrepreneur memang lagi ngetrend sekali sejak beberapa tahun yang lalu. Sejak saya lulus kuliah S1 di tahun 2008, saya bekerja di Universitas Ciputra dengan taglinenya "Creating World Class Entrepreneur". Pada tahun tersebut saya belum mengenal istilah entrepreneur, entrepreneurship dan tidak pernah bermimpi juga menjadi seorang entrepreneur. 5 tahun bekerja di sana memberikan saya banyak sekali pembelajaran dan pengalaman berharga. Karena bekerja di sana, akhirnya saya pun memutuskan untuk kuliah lagi (S2) mengambil manajemen, padahal ilmu manajemen adalah ilmu yang paling anti saya ambil ketika dulu saya hendak memutuskan kuliah. Menurut saya ilmu manajemen adalah ilmu yang tidak pasti, tidak sama seperti teknik, yang hanya ada 1 jawaban pasti dan tidak alternatif jawaban yang lain:)

Karena bekerja di Universitas Ciputra, saya jadi harus rajin belajar dan membaca jurnal dan buku-buku, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan:) dan hal ini membawa dampak yang baik bagi saya saat ini. Selain belajar menjadi pribadi yang lebih 'pintar', saya belajar juga untuk bepergian dan traveling. Traveling dan bepergian ke luar kota adalah hal yang pualiinng saya hindari, karena mabuk perjalanan baik darat, laut dan udara >< Tapi kalau ada tugas dari kantor untuk ke luar kota, mau tidak mau ya harus diterima dan dijalani, akibatnya mabuk perjalanannya sekarang sudah lebih berkurang, bahkan sudah pernah traveling bareng teman-teman kantor.


Hal yang paling keren dan berkesan yang saya pelajari dari Universitas Ciputra (UC) adalah tentang menjadi seorang entrepreneur dan intrapreneur. Entah apa yang menyebabkan saya sehingga di tahun 2013 yang lalu tiba-tiba terlintas untuk memiliki usaha sendiri, padahal hal tersebut tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Di tahun 2013 yang lalu saya dan seorang rekan akhirnya sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan, pelatihan dan pengembangan diri.
Semuanya ini dapat terwujud karena kami mengaplikasikan ilmu efektuasi yang kami dapatkan di UC. Ilmu efektuasi ditemukan oleh Profesor Saras Sarasvathy.  Beliau mengajarkan bahwa pebisnis-pebisnis sukses dalam memulai bisnisnya...:

  • Memulai dengan apa yang dia miliki (bird in hand)
  • Memperhitungkan risiko yang dapat ditanggung  (affordable loss)
  • Lemonade principle
  • Crazy quilt dan 
  • Pilot in plane
Pembelajaran yang saya dapatkan tidak berhenti sampai saat ini. Ketika bisnis ini mulai berjalan, saya pun belajar mengenai hal-hal legal, keuangan, sumber daya manusia dan semua hal yang berkaitan dengan keberlangsungan sebuah usaha. Banyak hal-hal baru yang saya pelajari, demikian juga pengalaman baru yang saya miliki, seperti siaran di radio Suara Surabaya:)
I know it won't be easy, and still a lot of things to be learned. Yet I know there's nothing impossible when there is a will.  I've seen and felt so many blessing in the journey of my life. 


Saturday, August 31, 2013

Tuhan, Engkau Adalah Sutradara yang LUAR BIASA (2)

Setelah 4 kebetulan yang sudah saya utarakan sebelumnya di artikel "Tuhan, Engkau Adalah Sutradara yang LUAR BIASA (1)" , masih ada beberapa 'kebetulan-kebetulan' lain yang sudah saya rasakan sampai saat ini. Berikut adalah lanjutan dari 'kebetulan-kebetulan' tersebut...

Ketika saya mengambil keputusan untuk off dari pekerjaan saya, saya tahu bahwa saya tidak akan memiliki penghasilan selama 7 bulan ke depan, atau paling tidak jika ada penghasilan pun, saya belum memiliki penghasilan yang pasti jumlahnya. Aneh bin ajaibnya (#kebetulan 5) di tahun 2012, sebelum saya memutuskan untuk off dari pekerjaan saya, seorang rekan dosen mengajak saya untuk mengajukan hibah penelitian. Hibah penelitian ini maksudnya adalah kami mengerjakan penelitian selama kurang lebih satu tahun dan kami mendapat bantuan dana dari DIKTI. Ternyata judul penelitian yang kami ajukan disetujui dan didanai oleh DIKTI, Dengan diterimanya hibah penelitian ini, paling tidak saya mendapat sedikit upah/gaji sebagai seorang peneliti, dan sedikit dana untuk menggantikan uang pulsa dan transportasi:)

Dan inilah puncak cerita yang membuat saya melakukan refleksi dan menjadi sumber inspirasi menulis saya. Hari ini, saya membuka kelas "Bagaimana MEMAKSIMALKAN Slide Presentasi Anda" di tempat usaha saya yang baru yaitu Cerdas Ceria Sukses Indonesia (sedikit promosi ^^). Brosur kegiatan tersebut baru kami bagi start di hari Senin, 26 Agustus 2013. Saya dan seorang staf saya hanya membagikan brosur tersebut di beberapa daerah yaitu Kendangsari, dan Jemursari dan brosur tersebut hanya kami bagi di hari Senin dan Selasa, karena Rabu saya ada kegiatan, hari Kamis libur karena bertepatan dengan Pilkada, dan hari Jumat saya rasa sudah terlalu mepet dengan pelaksanaan kegiatan. Sebelumnya kami juga sudah membagikan brosur di beberapa daerah sekitar ruko, tapi bukan brosur yang berisikan kegiatan tersebut. Brosur yang kami bagikan sebelumnya hanya berisikan bahwa telah dibuka sebuah bimbingan belajar dan info tentang facebook fanpage usaha kami.

Aneh bin ajaib yang berikutnya (#kebetulan 6) adalah tepat di pagi hari ini ada seseorang yang menelpon ke ruko, menanyakan brosur yang dia terima. Brosur yang diterimanya adalah brosur yang berisikan keterangan facebook fanpage dan tempat bimbingan belajar. Staf saya pun menjelaskan mengenai brosur tersebut dan menjelaskan bahwa hari ini kita ada kelas yang membahas mengenai slide presentasi. Dari percakapan yang terjadi, tampak bahwa sang Bapak dan istrinya ini tertarik untuk ikut kelas kita karena materinya dapat membantu untuk pelayanan yang dilakukannya. Namun karena kendala biaya, akhirnya sang Bapak dan istrinya ini memutuskan untuk tidak bergabung di kelas kita. Kelas saya akan dimulai pk 14.00, waktu saat itu menunjukkan pk 13.00, dan entah mengapa saya merasa gelisah, dan merasa bahwa saya harus menelpon kembali Bapak tersebut dan menawarkan kepada Bapak dan istrinya tersebut untuk boleh hadir di kelas saya.

Saya tidak tahu apakah tepat menganalogikan apa yang saya alami ini dengan apa yang Elia dan janda miskin alami. Tuhan menyuruh Elia untuk boleh pergi ke seorang janda miskin dan Tuhan memelihara Elia dan janda miskin tersebut. Elia bisa saja merasa "ngga mungkin Tuhan janda miskin ini dapat menolong saya, saya ngga perlu deh ke sana, percuma buang-buang waktu dan tenaga". Namun apa yang terjadi, Elia dan janda miskin ini sama-sama taat terhadap apa yang menjadi perintah/suara Tuhan. Janda miskin bisa saja berkata "Tuhan, saya ngga bisa menolong Elia, buat saya saja ngga cukup Tuhan, apalagi untuk membantu orang lain"

Saya merasa bukanlah suatu kebetulan kalau Bapak ini bisa menelpon di hari ini, apalagi Bapak ini tidak tahu kalau hari ini saya ada kelas slide presentasi. Brosur yang diterima oleh Bapak ini, saya bagikan kurang lebih seminggu atau dua minggu yang lalu, dan logikanya seharusnya dia dapat menelpon beberapa waktu yang lalu begitu dia menerima brosur tersebut dan pertanyaannya "Mengapa bisa begitu pas hari ini dan di pagi hari sebelum kelas dimulai?"  Saya tidak tahu juga apa yang membuat saya gelisah dan mendorong saya untuk boleh menelpon kembali Bapak tersebut. Namun ketika kegelisahan itu tiba, saya tahu saya punya dua pilihan, menuruti atau mengabaikannya. Saya bersyukur saya boleh menelpon kembali Bapak tersebut dan beliau boleh bergabung di kelas saya dan boleh merasa diberkati dengan apa yang saya bagikan. Setelah kami mengobrol satu sama lain, ternyata beliau dan istri aktif juga di pelayanan anak-anak. Saya sangat bersyukur bahwa pada siang itu saya tidak mengabaikan suara hati saya. Saya akan merasa 'berdosa' ketika saya dapat menjadi berkat namun saya menolaknya.

Dalam hidup ini Tuhan sudah merencanakan kehidupan kita dengan begitu rupa. Tuhan sudah memiliki skenario terindah untuk kehidupan kita. Yang seringkali menjadi kendala adalah terkadang kita ingin membuat cerita kita sendiri dan tidak ingin mengikuti alur cerita yang sudah direncanakan. Skenario terindah tidaklah sama dengan hidup yang mulus tanpa masalah, namun skenario terindah berbicara bagaimana kita boleh dimampukan untuk boleh melalui seluruh cerita kehidupan kita.

Lewat apa yang boleh saya alami, saya juga belajar bahwa Tuhan mampu menyediakan LEBIH dari apa yang kita pikirkan. Saya berpikir bahwa saya akan mampu untuk melalui 7 bulan ke depan tanpa adanya penghasilan, namun Tuhan menyediakan 'sumber penghasilan' yang lain. Saya berpikir brosur yang saya bagikan akan mampu menarik orang-orang untuk ikut kelas saya, namun Tuhan menunjukkan, tanpa brosur itu pun Tuhan mampu menggerakan orang untuk menghubungi saya.

Well, bagaimana dengan kehidupan Anda? Sudahkan Anda merasakan bahwa Tuhan adalah sutradara yang sudah merencanakan setiap langkah demi langkah kehidupan kita dengan begitu indahnya?

Tuhan, Engkau Adalah Sutradara yang LUAR BIASA (1)

 

Segala sesuatu akan indah pada waktuNya...Hal ini lah yang sering saya dengar, namun kalau boleh jujur seberapa yakin kita akan kebenaran pernyataan tersebut? Saya sudah berkali-kali mendengar kisah bagaimana Elia boleh dipelihara oleh Tuhan, Tuhan memakai burung gagak untuk memberi makan kepada Elia, dan Tuhan menggerakkan seorang janda miskin untuk boleh menolong Elia. Saya juga sering mendengar bagaimana kesaksian orang-orang mengenai Bagaimana Tuhan boleh menolong dan memelihara hidup mereka. Namun terkadang saya merasa dan berkata dalam hati:
"Memang bisa ya Tuhan?";
"Kog bisa begitu kebetulan seperti itu ya?"
"Apa memang itu karena campur tangan Tuhan ya dan bukan kebetulan?"

Namun apa yang terjadi pada hari ini justru membuat saya melakukan sebuah perenungan yang akhirnya membawa saya sampai pada suatu kesimpulan "Tuhan, Engkau Adalah Sutradara yang LUAR BIASA".

Mengapa Saya menyatakan hal tersebut? Well, berikut adalah rentetan kisah yang saya alami...


Di akhir tahun yang lalu, yaitu tahun 2012, saya memutuskan saya ingin membuka usaha sendiri (Maklum, karena beberapa kali mengajar entrepreneurship, membuat saya terdorong ingin menjadi seorang entrepreneur juga). Jadi, saya mau mencoba bernegosiasi agar saya dapat mengambil cuti di semester depan dan berharap bisa bergabung kembali di semester depannya lagi. Kebetulan waktu itu saya sedang ada tugas di luar kota bersama boss dan big boss saya, jadi saya merasa ini moment yang pas untuk mengutarakan bahwa saya ingin off untuk satu semester dan memulai usaha saya.  (#kebetulan 1). Singkat cerita, saya menerima tanggapan yang positif dari beliau berdua, dan saya diijinkan untuk off 1semester. Wowww, hal yang cukup surprise juga buat saya, tampaknya belum tentu ijin ini saya dapatkan jika saya bekerja di perusahaan yang lain (#kebetulan 2).


Awalnya saya berpikir akan merintis usaha ini seorang diri, berbekal bahwa saya sudah familiar dengan yang namanya mengajar dan memberikan kursus seputar matematika, fisika dan kimia. Namun pada suatu hari, ketika saya harus lembur dan stand by sampai larut malam karena mahasiswa sedang melakukan pameran, saya bertemu dan mengobrol dengan seorang rekan yang akhirnya menjadi rekan bisnis saya saat ini. Seseorang yang saya temui malam itu hanya menanyakan "Mengapa saya bersedia bekerja hingga larut malam seperti ini?", dan dengan sederhana saya jawab "ya, sudah tugas dan tanggung jawab saya Pak". Entah apa yang kami obrolkan selanjutnya, sampai akhirnya tercetus dari saya bahwa semester depan saya berencana off dan ingin mencoba membuka bisnis sendiri. Spontan rekan saya menawarkan untuk berpartner dalam menjalankan bisnis tersebut (#kebetulan 3). Setelah merenung dan berpikir selama beberapa waktu, akhirnya saya setuju untuk berpartner dalam merintis usaha saya yang pertama ini. Dan ketika saya merenungkan kembali, sungguh saya beruntung untuk boleh berpartner dengan beliau karena saya belajar banyak dari pengalaman bisnis yang sudah dimilikinya, dan saya sangat terbantu dengan network serta resource yang dimilikinya :)



Mencari karyawan yang baik dan sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun sungguh beruntung bahwa sebelum saya cuti di bulan Juli 2013, sudah ada karyawan yang melamar di perusahaan partner bisnis saya. Apa hubungannya perusahaan partner bisnis dengan usaha yang kami dirikan?bukankan itu dua bisnis yang berbeda? Well, saat itu perusahaan partner bisnis saya belum membutuhkan karyawan, jadi sang karyawan yang melamar pekerjaan tersebut ditawari untuk bekerja di usaha bimbingan belajar dan lembaga pelatihan yang sedang kami rintis (#kebetulan 4).

Dan kisah ini tidak berhenti sampai di sini, masih ada beberapa "kebetulan" lain yang terjadi yang membuat saya takjub dan merasa "Wowww, You are so amazing Lord"...Jika Anda ingin tahu 'kebetulan-kebetulan' lain yang Tuhan rancangkan selama saya merintis usaha baru saya, silahkan baca "Tuhan, Engkau Adalah Sutradara yang LUAR BIASA (2)"...



Sunday, June 16, 2013

Membangun 'Saluran Pipa' Milik Kita

Ada dua orang sahabat yang bernama Embro dan Pipo. Embro berbadan tinggi besar dan Pipo adalah pribadi yang lebih kecil dari Embro dan sedikit kurus. Kedua sahabat ini seringkali saling ngobrol dan ternyata mereka jadi tahu bahwa mereka memiliki cita-cita/impian yang sama yaitu menjadi orang yang kaya, sukses dan berhasil.


Embro dan Pipo adalah tipe orang pekerja keras. Mereka tidak takut apabila harus bekerja keras sampai larut malam sekalipun. Namun mereka merasa belum ada kesempatan yang pas agar mereka dapat mewujudkan impian mereka tersebut. 


Suatu hari mereka melihat sebuah lowongan bahwa di sebuah desa sedang membutuhkan 2 orang pembawa air. Mereka merasa ini peluang yang tepat untuk mewujudkan impian mereka menjadi orang kaya. Maka segeralah mereka melamar sebagai pembawa air ke desa tersebut.


Karena desa tersebut sedang kekurangan air, maka kepala desa memutuskan untuk menerima Embro dan Pipo. Embro dan Pipo setiap hari harus menuju sumber mata air dan membawa air tersebut ke tempat penampungan air di desa tersebut.

Embro dan Pipo akan dibayar sesuai dengan banyaknya air yang berhasil dikumpulkan. Setiap hari Embro dan Pipo bekerja keras membawa air-air dari sumber mata air menuju ke desa.

Embro dan Pipo bekerja keras hingga malam mengangkut air-air tersebut. Mereka menyadari semakin banyak air yang mereka bawa maka akan semakin banyak uang yang mereka kumpulkan dan semakin cepat impian mereka menjadi kaya menjadi kenyataan.

Embro ingin sekali cepat menjadi kaya. Ia pun berpikir kalau ia dapat memperbesar kapasitas embernya, maka akan semakin banyak air yang dikumpulkan dan ia segera menjadi kaya dan bisa segera membeli rumah yang lebih besar.

Berbeda dengan Embro yang berpikir ingin memperbesar kapasitas ember. Pipo tidak merasa 'sreg' dengan cara konvensional yang mereka lakukan tersebut. Pipo berpikir bagaimana agar air tersebut dapat mengalir terus menerus dan lebih banyak lagi tanpa ia harus bekerja membawa ember-ember tersebut. Akhirnya Pipo menemukan ide untuk membuat saluran pipa yang menghubungkan sumber mata air dengan penampungan air di desa. Pipo dengan semangat menceritakan idenya kepada Embro namun Embro tidak tertarik dan malah mentertawakan ide Pipo tersebut.

Seperti biasa, Embro mengangkat air dengan menggunakan ember setiap harinya dan mengangkat ember-ember tersebut bolak-balik dari sumber mata air menuju desa. Sementara Pipo memutuskan untuk tetap melakukan apa yang menjadi idenya walaupun harus seorang diri. 

Pipo tetap mengangkat ember setiap harinya, namun Pipo meluangkan waktunya di akhir pekan untuk membuat saluran pipa. Tidak mudah, karena tidak ada hasil apa-apa yang tampak di awalnya, bahkan ada masyarakat di sekitar yang mencemooh apa yang dilakukan Pipo.

Embro sudah mulai dapat menikmati hasil kerja kerasnya. Embro sudah dapat membeli rumah yang lebih besar dan merubah gaya hidupnya dengan pergi ke bar setiap malamnya untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

Namun hari berganti hari, tahun berganti tahun. Embro pun semakin bertambah tua dan tubuhnya semakin membungkuk karena ember-ember yang berat yang dibawanya setiap hari. Kini Embro pun tidak dapat membawa ember yang berisi air sebanyak ketika ia masih muda dulu. Sementara Pipo, ia sudah berhasil menyelesaikan saluran pipanya. Kini Pipo sudah dapat menikmati waktunya dan uang terus dapat mengalir masuk karena air terus mengalir dari sumber mata air ke desa tersebut.

Sahabat, Apa yang dilakukan oleh Embro dan Pipo merupakan gambaran bagaimana kita mendapatkan penghasilan kita.

Apakah kita seperti Embro yang menukarkan waktu dan tenaga kita untuk mendapatkan penghasilan? Untuk mendapatkan penghasilan yang semakin besar maka kita harus bekerja semakin keras. Bahkan gambar kapasitas ember yang diperbesar merupakan gambaran kita ketika menerima posisi/tanggung jawab yang lebih tinggi.  Namun hal yang perlu diingat adalah kita memiliki waktu dan tenaga yang terbatas.
Apabila kita bekerja seperti Embro, maka ketika kita semakin tua ataupun ketika kita sakit dan tidak dapat bekerja, maka hilang pula lah penghasilan kita. Berbeda dengan Pipo yang harus bekerja extra pada awalnya dengan tetap mengangkut ember dan juga membangun saluran pipa. Namun di akhir, kita dapat melihat bagaimana kerja keras Pipo membuahkan hasil. Ia tidak harus selalu menukarkan waktu dan tenaganya untuk mendapatkan penghasilan.

Bagaimana dengan setiap kita pada hari ini? Apakah kita seperti Embro yang baru mendapatkan penghasilan ketika bekerja, ataukah kita sudah seperti Pipo atau ingin seperti Pipo yang berhasil membangun saluran pipa pendapatannya dan tidak harus menukarkan waktu dan tenaganya untuk mendapatkan penghasilan?


**Kisah ini diambil dari sebuah video singkat yang dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=nsPXdZULiy4

Tuesday, June 11, 2013

Belajar Seumur Hidup

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.”(Mahatma Gandhi)

Kutipan ini cukup berarti bagi diri saya. Entah dimulai sejak kapan, namun aku sungguh menikmati apa hal yang disebut dengan "BELAJAR". Awalnya saya sangat tidak suka dengan yang namanya belajar, walaupun saya sangat suka ilmu-ilmu pasti seperti matematika, fisika dan kimia. Dalam pikiran saya belajar itu ya belajar mata pelajaran saya di sekolah, harus menghafal dan diuji lewat ujian. Namun semenjak saya memasuki dunia kerja yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya jadi lebih tersadar akan makna "BELAJAR". Saya jadi sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa dan harus banyak belajar, dan sampai akhir hidup saya tidak akan cukup waktu bagi saya untuk "BELAJAR" :)

Salah satu hal terpenting yang saya pelajari adalah pentingnya untuk bermimpi dan memiliki tujuan hidup. Orang yang tidak memiliki mimpi seakan seperti kapal yang berlayar tanpa arah tujuan. Menyadari akan pentingnya hal tersebut, saya mulai belajar menuliskan impian-impian saya dan mulai memikirkan cara-cara dan strategi agar saya dapat mewujudkan impian-impian saya.
Sebuah kutipan yang indah mengenai mimpi yang menyatakan  "Hidup adalah sebuah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan". Yang terpenting adalah berani bermimpi dan berusaha mewujudkan impian tersebut. Sayangnya seringkali kita sudah menyerah dulu dan berkata tidak mungkin bahkan ketika kita belum mencoba melakukan apapun.  Seorang teman berkata "Tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanyalah belajar". Sebuah kalimat motivasi lain yang cukup menguatkan saya untuk boleh terus berjuang mewujudkan impian saya adalah sebagai berikut:
Kalimat tersebut sangat menginspirasi saya untuk boleh berjuang mewujudkan impian saya dan bukannya impian orang lain. Tentunya saya tidak hanya belajar akan pentingnya mimpi. Beberapa 'guru' yang boleh menginspirasi saya adalah sebagai berikut:

With Miss Merry Riana
Miss Merry cukup menginspirasi saya mengenai kekuatan mimpi dan bagaimana kita harus persistent dan pantang menyerah untuk boleh terus meraih impian kita. Bahkan setelah impian kita terwujud, itu bukan berarti kita sudah boleh berhenti berjuang justru itu saatnya kita mulai membuat impian yang baru dan mulai berjuang untuk mewujudkannya kembali.


With Pak Masagung

Pak Masagung adalah dosen saya di pasca sarjana Ubaya. Beliau cukup menginspirasi saya khususnya dalam hal memikirkan tentang saluran pipa pendapatan kita dan bagaimana agar kita dapat memiliki banyak saluran pipa. Kisah lengkap tentang pipa vs ember ini dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=raSA8ejVHOc
With Prof John Norton, Bu Lisa dan Pak Oscar
Prof John Norton datang ke Universitas Ciputra dan berbagi cerita serta pengalaman bagaimana metode belajar mengajar yang menyenangkan dan dapat diaplikasikan kepada mahasiswa. Beliau sharing juga bagaimana agar kita memiliki engagement/kedekatan dengan mahasiswa.

With Prof Saras dan Bu Lisa
Merupakan sebuah keberuntungan juga boleh belajar dari Prof Saras. Prof Saras berbagi mengenai prinsip efektuasi yaitu pola pikir yang digunakan oleh para entrepreneur sukses dunia. Inti dari prinsip efektuasi ini adalah Bird in Hand (mulai dengan resource yang kita miliki), Affordable Loss, Lemonade Principle, Crazy Quilt dan Pilot in Plane. 

With 'Papa Green'
 'Papa Green' is very great in story telling and public speaking :) Sungguh beruntung bisa bergabung dalam Toastmaster dan ikut workshop 2 hari dari Papa Green ^^ Tagline yang digunakan Papa Green adalah "If you can not tell it, you can not sell it". Intinya ilmu public speaking ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan dan tentunya ini harus dilatih terus seumur hidup. Pembelajaran lain yang menarik adalah "So What!". Kita tidak perlu terlalu pusing dengan kesalahan-kesalahan yang akan kita lakukan, tidak perlu pusing dengan grammar, dll yang pasti harus berani mencoba dan berlatih.

With Gobind Vasdev and FEH Crew
Gobind Vasdev adalah pribadi yang unik dan merupakan 'heart worker'. Beliau pengarang buku Happiness Inside. Beliau menekankan bahwa pembelajaran adalah sebuah proses yang akan kita lakukan setiap hari, dan setiap orang yang kita temui adalah 'guru' kita. Banyak hal yang saya dapat pelajari baik lewat buku maupun pribadi beliau.

With Mr Lee
Tidak hanya belajar hal-hal yang bersifat content. Ketika bertemu dengan Mr Lee saya belajar mengenai kehidupan kerohanian dan bagaimana kita harus persistent terhadap panggilan Allah dalam kehidupan kita. Setiap orang dilahirkan ke dunia ini dilengkapi dengan talenta/kelebihan dan bagaimana kita dapat menggunakan talenta yang telah diberikan ini untuk memenuhi panggilanNya:) 

Foto-foto di atas hanyalah 'secuplik' guru-guru yang saya temui dan menginsprasi saya. Saya juga banyak belajar tentunya dari teman-teman di kantor, teman-teman pelayanan dan banyak lagi yang lain. Kalau saya upload fotonya dan bagikan kisahnya, maka tidak akan habis-habisnya saya menulis:)
Sampai hari ini pun saya masih terus belajar dan sampai nantinya saya akan tetap belajar. Terima kasih kepada 'guru-guru' dalam kehidupan yang boleh menginspirasi saya ^^ 

"Tidak mungkin untuk mulai belajar ketika  seseorang berpikir bahwa dia sudah tahu".


Sunday, February 24, 2013

My Journey in 2012 (part 2)

Setelah dikejar segudang aktivitas, akhirnya diriku bisa kembali duduk dengan tenang di depan laptop dan kembali menuliskan perjalananku di tahun 2012. Terinspirasi oleh Sdri. Yuniar yang baru saja menulis isi blognya, maka kuputuskanlah diriku untuk segera duduk dan menuliskan kembali isi blogku:)

Akhir tahun 2012 kuiisi dengan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Perjalanan yang cukup kunikmati walaupun aku tidak pernah menyukai saat-saat aku berada dalam perjalanan mengingat aku mengalami mabuk darat, laut dan udara:( Selain ke Bali dan Medan, aku kembali melanjutkan perjalananku ke kota Padang pada saat liburan natal tiba. Liburan natal 2011 dua tahun yang lalu kuiisi dengan petualangan ke Jakarta dan Bandung bersama dengan teman-teman gereja (Agnes, Olivia, Ce Yuli, dan si kecil Shiella) dan tahun 2012 ini kuiisi dengan petualangan di kota Padang dengan teman-teman kantor (Bu Lili, Bu Christin, Bu Ida dan Bu Subaita). 

Tiba di kota pada pada siang hari, kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan pada sore menjelang malam hari kami berangkat untuk bermain di pantai Padang yang letaknya tidak jauh dari rumah tempat kami menginap.

@ Pantai Padang
Tidak kalah indah dengan pantai yang ada di Bali bukan? Makanan yang pertama kali dicoba tentunya sate padang yang menjadi makanan khas di kota padang ini dan yang juga merupakan salah satu makanan kesukaanku. Tidak melanjutkan lagi berkeliling di kota Padang, kami memutuskan untuk pulang karena kami harus beristirahat mempersiapkan perjalanan esok harinya, kerena perjalanan menuju objek wisata cukup jauh dan memakan waktu 2-3 jam. Tiba di rumah Bu Ida tempat kami menginap, makan malam berupa rendang khas Padang telah tersedia (so yummy:D)

Petualangan hari berikutnya kembali dimulai, kami menuju ke jembatan akar. Kami menyewa mobil untuk menuju ke sana dan perjuanganku melawan mabuk darat dimulai dan tentunya obat anti mabuk telah kuminum terlebih dahulu. Namun tampaknya proses adaptasi memang kuperlukan di hari pertama ini, dalam perjalanan yang berkelok-kelok tersebut, akhirnya terpaksa kami berhenti di pinggir jalan karena aku mulai merasa mual dan akhirnya muntah. Namun setelah aku muntah, aku merasa lebih baik dan perjalananku di hari itu dan hari-hari selanjutnya sudah tidak terganggu oleh mabuk perjalanan. Dari namanya saja sudah jembatan akar, mungkin Anda bisa membayangkan sebuah jembatan yang terbuat dari akar. Aku pun membayangkannya seperti itu, namun aku tak menyangka jembatan ini cukup panjang dan cukup kokoh untuk dilewati orang-orang. 

@Jembatan Akar


Melewati Jembatan Akar ini cukup memacu adrenalinku, mengingat aku cukup takut akan ketinggian dan ada sungai yang terletak di bawah Jembatan Akar ini. Namun ketakutan akan ketinggian ini tidak mengalahkan keinginanku untuk tetap berfoto-foto walaupun harus sambil memegang kuat-kuat setiap akar yang terjalin:)

Dari Jembatan akar kami menuju ke tempat air terjun (namun aku lupa nama tempatnya) airnya bersih dan dingin, namun sayang karena beberapa orang mengkontaminasi tempat ini dengan shampo dan sabun yang mereka gunakan untuk mandi:(




Untuk hari-hari selanjutnya, aku lupa kemana tempat tujuan wisata kami di hari kedua hingga hari terakhir kami di Padang. Tidak hanya mengunjungi kota Padang, namun kami menyempatkan diri juga untuk singgah dan menginap di Bukittinggi. Berikut merupakan beberapa foto perjalananku di kota Padang dan Bukittinggi. 

@ Ngarai Sianok
@ Jembatan Siti Nurbaya

Pemandangan yang cukup menakjubkan dapat dilihat di Ngarai Sianok. Di objek wisata tersebut, kita dapat menyusuri gua peninggalan jepang, dimana terjadi kekejaman penjajahan Jepang atas orang Indonesia. Gua jepang ini terdiri atas lorong-lorong dan di ujung lorong ini kita dapat melihat pemandangan Ngarai Sianok. Dari gua jepang ini, para tentara Jepang ini dapat mengawasi orang-orang Indonesia yang akan menjual hasil buminya atau hendak bepergian menuju desa atau tempat lain. Gua jepang ini dibuat sangat kokoh, bahkan ketika gempa bumi terjadi di bukit tinggi, tidak ada kerusakan yang berarti terjadi pada gua jepang tersebut. 

Foto berikutnya adalah foto Jembatan Siti Nurbaya. Di sisi kiri dan kanan jalan ada banyak pedagang kaki lima yang berjualan pisang bakar, roti bakar dan jagung bakar. Bersama Bu Lili dan Bu Christin, kami bertiga duduk di pinggir jalan dan menikmati jagung, roti dan pisang bakar:) Ada yang berbeda dengan jagung bakarnya, tidak hanya menggunakan mentega dan adonan bumbu, namun ada bumbu cair yang disiramkan ke jagung tersebut dan rasanya enak:)

@ The Top of Kelok 44

Tempat yang paling berkesan untukku adalah ketika kami melalui kelok 44. Sehari sebelumnya kami ragu akankah kami melewati daerah tersebut karena kami akan melewati 44 tikungan, karena melewati daerah yang tidak berkelok-kelok saja aku sudah merasa mual dan muntah, apalagi melewati 44 tikungan... Namun akhirnya kami memutuskan untuk mencoba melewatinya, dan diriku berhasil dengan selamat dan sehat walafiat melewati 44 kelokan tersebut :D  Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto ketika kami berada di atas:) Inti dari petualangan melewati kelok 44 ini adalah: "Jangan menyerah dahulu sebelum Anda mencobanya". Aku tidak tahu apakah aku akan muntah dalam perjalanan ini atau tidak, namun paling tidak mencoba untuk mencobanya tidak ada ruginya, sekaligus sebagai terapi menghilangkan mabuk perjalananku:D Bagi Anda yang mengalami mabuk perjalanan, mungkin Anda harus mencoba menjalani terapi melalui kelok 44 tersebut:)

@ Istana Pagaruyung

Beautiful Ornament @Istana Pagaruyung

Putra-Putri Minang
Tempat objek wisata lain yang tidak kalah serunya adalah istana Pagaruyung. Sungguh mengaggumkan melihat dindingnya terbuat dari ukiran-ukiran yang begitu indah. Yang paling menarik adalah kami dapat berfoto ria dengan mengenakan pakaian tradisional/pakaian adat pengantin dari daerah tersebut.

@Danau Maninjau

@Lembah Anai
Dua foto yang terakhir berlokasi di Danau Maninjau dan Air Terjun Lembah Anai. Pemandangannya tidak kalah indahnya dengan pemandangan di luar negeri bukan? Cukup banyak pantai dan pemandangan yang indah di kota Padang ini. Sayangnya, masih ada beberapa tempat yang belum sempat kukunjungi di Padang ini, mungkin beberapa tahun ke depan diriku harus kembali mengunjungi kota ini:)

Perjalanan di kota Padang ini cukup berkesan untuk diriku, aku belajar mengobati penyakit mabuk perjalananku, dan juga belajar mengatasi ketakutanku juga terhadap ketinggian. Hal yang berkesan lagi adalah kami menghabiskan malam tahun baru dengan berdoa bersama, mensyukuri apa yang boleh terjadi di tahun 2012 dan berdoa untuk harapan kami di tahun 2013. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 1 Januari 2013 kami bersama-sama beribadah di gereja Kalam Kudus dimana Bu Ida dan Bu Subaita bertugas untuk menyampaikan firman Tuhan. 


Keindahan pemandangan di kota Padang membuatku ingin menjelajah ke kota, pulau dan negara yang lainnya lagi dan mengabadikan setiap perjalanan di dalam blogku ini:) Mengagumi dan juga mensyukuri apa yang telah diciptakan oleh Tuhan. Jadi, nantikan kisah perjalanan saya di kota, pulau atau bahkan negara yang lainnya ya:) God bless you...




Thursday, January 24, 2013

My Journey in 2012 (part 1)

Sudah lama sekali tidak menulis blog ini, padahal di awal 2012, saya berkomitmen akan menulis minimal 3 artikel per bulannya:) Resolusi yang sama di tahun ini, paling tidak saya berharap boleh mensharingkan 3 artikel per bulannya. 

Tahun 2012 telah berlalu dan akhir tahun saya lewatkan dari satu kota ke kota lainnya, mulai dari kota Medan, Bali, Padang dan awal tahun 2013 kembali saya boleh berjalan-jalan di Bali. Walaupun saya dilahirkan di kota Medan, di usia saya yang ke 26 tahun inilah pertama kali saya menginjakkan diri ke kota Medan. Yang pertama karena ada tugas dari kantor di bulan Oktober 2012, dan yang kedua kalinya karena ada anak dari saudara mama yang menikah. Beberapa kuliner yang recommended yang wajib dicoba ketika datang di kota ini adalah:


Tidak banyak yang mengetahui makanan istimewa yang bernama tahu kua heci. Isinya terdiri dari tahu, kangkung, cumi-cumi, dan ada kepiting dan udang yang digoreng dengan tepung dan disiram dengan saus berwarna merah yang rasanya bercampur antara asam, asin dan manis. Dulu aku pernah memakan makanan ini di Surabaya, namun sejak pemiliknya meninggal, aku tidak menemukan lagi ada yang menjual makanan tersebut di surabaya. 


Berikutnya adalah minuman kietna yang dibuat dari jeruk kietna dan dicampur dengan manisan kiamoy, rasanya perpaduan manis, asin, asam dan benar-benar segar di tenggorokan. Menurut beberapa orang minuman ini dapat bermanfaat untuk membantu menyembuhkan sakit tenggorokan. 

Selain tahu kua heci dan minuman kietna, makanan lain yang patut dicoba tentunya kwe tiauw medan, bebek peking, babi panggang karo, dan sate padang. Untuk minuman yang cukup terkenal adalah sarsi Badak dan juga terong Belanda. 

Untuk oleh-oleh beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah bika ambon, pia medan, kietna, babi panggang karo, dan yang cukup terkenal akhir-akhir ini adalah bolu gulung Meranti.

Setelah usai menggemukkan diri di kota Medan, perjalanan saya masih berlanjut ke kota Bali, karena ada sahabat yang menikah. Hari pertama kami nikmati dengan makan siang di babi guling Pak Malen di Seminyak dan setelah itu kami segera bersiap-siap menghadiri pemberkatan dan resepsi dari hotel Ayana (What a romantic place to get married:D).
Hari esoknya, kami melanjutkan perjalanan wisata kuliner dengan makan di Naughty Nuri's yang terkenal akan Pork Ribsnya dan kemudian tidak lupa mampir di Krisna untuk membeli oleh-oleh dan wisata kuliner ditutup dengan menu ayam gilimanuk yang rasa pedasnya benar-benar menggigit.

Tahun 2012 benar-benar tahun yang luar biasa bagi saya, tidak menyangka juga akhir tahun boleh saya tutup dengan berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Setelah dari Bali, perjalanan saya masih berlanjut lagi. Ikuti kelanjutan kisahnya di My Journey in 2012 part 2. God bless you